ESTETIKA
Socrates Café No.2/2023.
ESTETIKA
Denpasar tengah hari 27 Januari 2023, di
sebuah kedai kopi - bersua dua sahabat hebat, penyair Warih Wisatsana dan
Intelektual Bali Putu Suasta. Kerinduan berbincang lantas ‘tumpah ruah’ . Kita,
lantas berbincang berbagai topik kebudayaan. Bagi saya, ini merupakan
pencerahan, mengingat saya banyak tertinggal soal perkembangan peradaban dunia.
Pasalnya, banyak kesibukan yang tidak produktif saya lakukan. Oleh karenanya,
saya perlu ‘menyaring’ dan ‘mengkoreksi’ aktifitas yang tidak menambah
pertumbuhan pemikiran.
Ada hal baru dari pemikiran mas Warih,
sederhana namun cukup ‘mengusik’ saya. Dalam percepatan putaran jaman seperti
sekarang ini, mas Warih berpendapat Estetika sudah tak terlalu penting, konsep
pemikiran jauh lebih penting. Tentu, pemikiran Mas Warih soal ‘Estetika tak
terlalu penting’ – tak bisa kita ‘telan mentah’ begitu saja. Bagi kita-kita
yang berkecimpung di wilayah penciptaan, ada yang mesti kita renungkan lebih
dalam. Namun, pemikiran mas Warih - yang menurut tafsir saya merupakan ‘kontra estetika’, bukannya tanpa alasan.
Pasalnya, dengan perkembangan teknologi
semacam Artificial Intelligence (AI), persoalan estetika yang merupakan produk
kesenian yang berkait dengan keindahan – kini mudah dikerjakan oleh AI, meski
tidak sesempurna karya seorang seniman. Menurut The Oxford Dictionary, AI
merupakan pengembangan system computer yang membuatnya bias melakukan
kerja-kerja yang membutuhkan kecerdasan manusia, termasuk ‘estetika’.
Saya lantas ingat gerakan Dadaisme yang
menentang suatu karya indah secara fisik – melainkan lebih fokus pada pemikiran
dan kritik tajam. Selain itu, karya yang ditampilkan juga acap provokatif,
satir atau sindiran terhadap situasi sosial-politik yang kurang baik. Selain
itu, saya juga jadi ingat dengan gerakan ‘Anti Design’ pada tahun 1960 an. Pada
situs InteriorDesign.id disebutkan gerakan ‘Anti Design’ merupakan pendekatan dalam seni dan desain yang
bertujuan untuk menghindari atau menolak estetika yang dianggap umum atau mainstream.
Anti-desain juga dapat digambarkan sebagai ‘kontra-estetika’, yang menolak atau
menghindari nilai estetika yang diterima secara umum.
‘Kemapanan’ yang dikritik oleh gerakan
Dadaisme maupun ‘Anti Design’ juga dilakukan oleh gerakan Situationist International
(SI) pada tahun 1957 di Eropa yang didirikan oleh : Guiseppe Pinot-Gallizio,
Piero Simondo, Elena Verrone, Michele Bernstein, Guy Debord, Asger Jorn, dan
Walter Olmo. Sepertinya, munculnya gerakan Dadaisme, ‘Anti Design’ maupun SI,
sebagai respons terhadap pemikiran seni yang dianggap terlalu fokus pada
estetika dan fungsionalitas, serta kurang fokus pada masalah sosial dan
politik.
Ini parallel dengan pemikiran mas Warih, oleh
karenanya beliau memberi contoh gerakan yang dilakukan perupa muda Bali,
Jessiow – manakala saya memuji enerji kreatif bli Putu suasta yang produktif
menulkiskan produk pemikirannya. Selain itu, saya juga memuji enerji beberapa
perupa Bali. Dari sanalah muncul pendapat mas Warih soal ‘Estetika tak terlalu
penting’.
Adalah Yessi Nur Mulianawati atau yang lebih
dikenal dengan sapaan Yessiow Seniman mural Bali yang kini karya-karyanya
mendunia. Menurut mas Warih, Jessiow merupakan pelaku seni kontra-kultur, lewat
seni graffiti dan seni jalanan,. Seni muralnya, merupakan perlawanan pada
estetika formal dan lemah dalam pesan maupun konteks. Maka, ia memakai kota
sebagai medium ekspresi dan kritik pada realita sosial-politik, serta menolak
estetika mainstream.
DIdukung oleh perusahaan Traveloka, Yessiow
berkesempatan ikut festival seni jalanan Internasional di beberapa kota Eropa.
Perjalanan seni dan eksplorasi wisata Eropa yang berlangsung sejak bulan
Agustus tahun lalu, dikemas dalam tajuk Yessiow Euro Tour 2022. Kini, karyanya
telah tersebar di berbagai negara di dunia seperti Kamboja, Nepal, India,
Turki, Afrika Selatan hingga Itali, Jerman, Brussel, Athena, Bercelona, dan
lain lain.
Kiprah berkesenian keliling dunia seperti
Yessiow sebelumnya juga dilakukan oleh perupa Wild Drawing (WD). Perupa asal
Nusa Penida, Bali ini kini bermukim di Yunani. Karya WD juga banyak bertebaran
di jalanan kota-kota besar dunia, seperti Los Angeles (Amerika Serikat),
Valensia (Spanyol), Sau Paulo (Brazil), Berlin (Jerman), Paris (Perancis), dan
seterusnya. Salah satu karyanya yang berjudul Owlself masuk dalam daftar ‘The
20 Most Stunning Works of Street Art of 2015’. Sebelumnya, karyanya yang lain
juga masuk The Best Street Art Masterpieces of 2013.
Kini WD telah membuat mural di beberapa
belahan dunia. Ia pun tercatat sebagai muralis top dunia dan disejajarkan
dengan seniman top dunia asal Inggris, Bansky. Selain itu, ada nama-nama besar
yang juga disejajarkan dengan WD, seperti ; Mona Caron, CASE, A’shop, dan
lain-lain. Pria kelahiran Pulagan, Desa Kutampi Atas, Nusa Penida pindah ke
Athena, Yunani tahun 2006. Dalam wawancara dengan Balebengong, WD mengaku untuk
bertahan hidup disana, pada mulanya ia menjadi tukang tato jalanan dan menjual
baju handmade. Sepertinya, jalanan memang sudah menjadi pilihannya untuk
berkesenian.
WD, sejak mahasiswa memang sudah menunjukkan
‘anti kemapanan’. Bersama beberapa temannya, mereka membikin suatu gerakan
‘mendobrak hegemoni’. Menurut WD, tujuan
gerakan itu, mendobrak ‘kemacetan’ dan
hegemoni kemapanan seni rupa di Bali yang terlalu banyak mengabdi pada pasar,
bukan pada seni itu sendiri. Sejak itu, WD tetap konsisten melawan ‘hegemoni
estetika’ yang identik dengan ‘kemacetan pemikiran’ dan ‘kemacetan
kreatifitas’.
Dalam ‘biosfer senirupa’, proses kreatif yang
menjadi pilihan Jessiow dan WD – adalah menempuh jalan idealism yang tak banyak
ditempuh para seniman. Bagi saya, ini pilihan ke wilayah ‘arus kecil’
kebudayaan. Entah, apakah mereka anti galeri atau tak, namun ada pilihan
tersendiri untuk unjuk eksistensi di dinding gedung2 tinggi yang bisa dinikmati
oleh ribuan orang. Meski dengan pilihannya itu, WD acap berurusan dengan
petugas ketertiban kota. Sebab, kerja kreatif ini, acap dituduh vandalis. Oleh
karenanya, WD senantiasa menyembunyikan jati dirinya. Dan ini, pilihan menarik
juga.
Lain lagi dengan Bli Putu Suasta yang baru
saja melakukan ziarah ke makam Santo Yakobus. Saya sungguh kagum dan ‘iri’ akan
energy produktifitasnya menuliskan produk pemikirannya. Pendapat bli Putu
Suasta, sama dengan mas Warih. Produk pemikiran adalah yang utama. Produk
pemikiran, kata bli Putu, akan tumbuh dan berkembang kalau kita selalu
berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Selain itu, juga
sebaiknya banyak berkunjung dan belajar dari kota-kota lain di Indonesia maupun
dunia, untuk lebih memahami berbagai budaya yang ada.
Lantas apakah ziarah yang dilakukan ada
kaitan dengan estetika? Tentu ada, setidaknya tumbuhnya ‘estetika batiniah’
dari perjalanan bli Putu berjalan kaki ratusan kilometer selama 3 minggu. Jadi,
bukan ‘estetika visual’ yang didapat, melainkan estetika yang lain. Camino de
Santiago (CDS) artinya "jalan kaki menuju Santiago" sering juga
disebut The Way of James, adalah istilah ziarah yang ditempuh bli Putu Suasta.
Ini, ziarah dalam menghormati Santo Yakobus manakala jasadnya dibawa oleh para
pengikutnya dari Yerusalem menuju Santiago dengan berjalan kaki. Dan para peziarah, akan mendapat sertifikat
dari katedral Santiago de Compostela.
Tentu, bukan sekedar sertifikat yang didapat
yang lebih penting dari perjalanan CDS itu, melainkan pertumbuhan spiritual
dalam diri para peziarah yang lebih penting tentunya. Pengalaman batin yang
luar biasa juga dialami oleh Putu Suasta. Pasalnya, di tengah perjalanan ia
merasakan sakit yang luar biasa di lututnya. Saat itu, Putu merasa tak akan
mampu melanjutkan perjalan ziarah itu. Artinya, ia tak mungkin sampai di
Katedral.
Wajar jika Putu Suasta merasa kesakitan saat
itu, sebab Putu Suasta menempuh Route Portugal, dari Porto Portugal – ke
Valanca –Tui-Porinho-Pontevedra-Pedron-Santiago, berjarak sekitar 200 km.
Ketika rasa sakit dating mendera, Putu memohon kesembuhan pada Santo Yakobus
agar ia bias melanjutkan perjalanan sampai Katedral Santiago. Dan permohonan
Putu Suasta dikabulkan, sampailah Putu Suasta ke Katedral Santiago de Compostela.
Begitulah sekilas perjalanan spiritual Putu
Suasta, salah satu intelektual Bali yang selalu dinamis dan meledak-ledak. Bagi
Saya, itu merupakan perburuan estetika dari sisi yang lain. Estetika yang tak
kasat mata. Ia, adalah keindahan yang ada dalam pertumbuhan prestasi batiniah,
melalui penziarahan ke persemayaman orang suci agama Katolik, santo Yakobus.
Putu Suasta saya kenal ketika ia pertamakali membentuk kelompok diskusi
politik, bernama Forum Merah Putih (FMP) tahun 80 an. FMP merupakan kelompok diskusi politik yang
pertama di Bali paska 65.
Saat itu, tidak banyak orang yang berani
bicara soal politik. Pasalnya, manakala kita mengkritisi situasi politik saat
itu, maka tuduhan ‘politik praktis’ sangat menakutkan. Politik Praktis,
merupakan hal tabu bagi kekuasaan rezim saat itu. Ini gegara kebijakan NKK
(Normalisasi Kehidupan Kampus)/BKK (Badan Koordinasi Kemahasiswaan) yang
mengebiri aktivitas mahasiswa di dunia politik. Artinya, mahasiswa tak boleh
langsung terjun ke politik praktis. Mereka hanya diperbolehkan memahami
teori-teorinya saja. Siapapun mahasiswa yang berani melanggarnya, akan langsung
dikeluarkan dari kampusnya.
Namun, Putu Suasta dan Forum Merah Putih nya,
melawan kebijakan yang ‘membungkam’ daya kritis para intelektual itu. Maka, wajar
jika Putu diminta oleh para intelektual dunia menjadin asistennya. Tercatat,
Putu Suasta pernah menjadi asisten Hildred Geertz di Universitas Princeton,
asisten Prof. Ben Anderson dan Prof. John Wolf di Univesitas Cornell. Putu
bahkan sempat mengajar di Asian Studies/Dept. Modern Language and Linguistics,
Cornell University pada tahun 1988.
Dari perbincangan dengan mas Warih dan bli
Putu Suasta itulah saya jadi ingat gagasan lama, yakni ; menulis buku tentang
“Kelas Menengah Bali tahun 80an”, dalam angkatan itu ada : Dewa Palguna, Prof.
Darma Putra, almarhum Ida Bagus Palguna, Made Pria Darsana, Ketut Sumarta, dan
masih banyak lagi. Gagasan tersebut, semoga bisa terealisir di tahun 2023 yang
saya tanamkan sebagai kebangkitan kembali Balimangsi Foundation. Semoga
kelompok Sahaja bisa
ikut mensupport aktifitas ini nantinya. Bravo angkatan 80 Bali. (Hartanto)
Catatan ;
SOCRATES CAFE adalah cafe anganan, yg tak ber batas ruang
dan waktu. Cafe ini bisa dimana saja - dan diperuntukkan perbincangan apa saja,
yg bermanfaat bagi tumbuhnya produk pemikiran. Esensinya, cafe ini sebagai
"ruang' studi dan diskusi, tanpa henti.
Semoga




Komentar
Posting Komentar