SELAMAT DATANG UPACARA TERAKHIR GM SUKAWIDANA
oleh : Gde Hariwangsa
Menyambut kehadiran antologi Upacara terakhir sahabat saya Gm Sukawidana, saya hadirkan ‘symphonic poem’ karya karya Cesar Franck yang tercipta atas dasar puisi Victor Hugo yang berjudul : ‘Ce qu’on, sur la montagne’ (What You Hear on The Mountain). Dan ‘Prélude à l'après-midi d'un faune’ (‘Prelude to the Afternoon of a Faun’) karya komponis Claude Debussy (1862-1918) yang terinspirasi oleh puisi L'après-midi d’un faune oleh Stéphane Mallarmé.
Selain itu, juga saya hadirkan repertoar sahabat kita I Wayan Gde Yudane dan sekaa gamelan Wrdhi Cwaram. Repertoar ‘symphonic poem’ atau pementasan musik Yudane dan Wrdhi Cwaram (yang bagi saya amat baru) itu, lahir dari ‘persenyawaan’ dengan karya puisi penyair Ketut Yuliarsa. ‘Aquifers’, adalah judul repertoar Yudane yang saya ‘petik’ dari Youtube.
Membaca-baca sajak-sajak pak guru GM yang terangkum dalam antologi Upacara Terakhir itulah, ‘menstimulir’ saya untuk menyimak secara lebih suntuk ketiga repertoar ini, meski dengan kemampuan yang ‘terbatas’ tentunya. Tapi, meski ‘terbatas’, tetap ada upaya untuk lebih memahami lebih ‘dalam’. Ayo sama-sama kita simak bersama.
--------------------------------------------------
UPACARA TERAKHIR
(“kau harus tahu
tanah moyangmu adalah tanah tembunimu sendiri
tanah yang diupacarai!”)
(1)
dari balik kabut
siapa memainkan bayangku
serupa anak lanang yang menenggak bergantang tuak
berselancar menunggang birahi ombak
terhempas di pasir-pasir pesisir serangan
kerut wajah nelayan di sini
nampak semakin kusut dan keruh
tergusur setapak demi setapak
dari tanah pesisir moyang yang disengketakan
(2)
ini hari
jangan ada yang mengirim seteru
buat anak cucu
di atas kulit biawak
telah kutulis mantra purba dengan huruf purba
kau membacanya berulang-ulang
luruh tenung sakti balian kiwa
para peri menampakkan pasang air payau
akar bakau menyusup ke sumsum-sumsum senja
matahari begitu kelam menggantung di langit jingga
para nelayan pesisir serangan
tak tahu mesti di mana menambatkan sampan
jalan pulang di tepi muara tak nampak lagi
setelah kabut kegelapan menutup kaki langit
(3)
duh!
bape rembang! bape rembang!
sesaat setelah bumbang ditabuh di bale banjar
ke mana i made teruna menabuh gambelan?
ke mana ni nyoman bajang menari rejang?
pratima para dewa telah kembali ke bale agung
dengan upacara masegeh
bulan teronggok di padang- padang senyap
bulakan tak lagi menampung mata air
asap pedupaan menjadi redup
dan aku kehilangan rona langit
perang pandan orang-orang pedalaman bali
tak mengucurkan darah
buat membasuh luka tanah moyang
(4)
duh! anak lanangku!
saat gerhana di puncak meru
tabuhlah lesung di pekarangan
rajah lidahmu
rajah ubun-ubunmu
panggillah bulan! panggillah matahari!
satukan jadi gerhana
rapal mantra-mantra purba
dengan suara paraumu
halau semua seteru
jimatmu benang tridatu
dan tapak silang di ulu hati
jika malam semakin berkabut
dan mantra para seteru semakin mengental
sulut api sorot matamu
nyalakan perapian leluhur
jadikan padang kuru
karena ini pertaruhan terakhir
antara kau dan seterumu
menjaga tanah yang memeram tembunimu
duh made teruna! duh ni nyoman bajang!
akankah kau menyerahkan begitu saja
apa yang masih tersisa dari sisa yang telah dirampas?
(5)
di wajah tuaku
tergurat kegetiran hidup anak cucu
tanpa tanah moyangnya
Komentar
Posting Komentar